2021
Hari ini sudah lewat hampir 3 bulan melalui 2021 yang penuh pertanyaan..
2020 yang begitu penat, banyak hal yang berlalu entah gagal ataupun berhasil, yang jelas melalui 2021 pun masih penuh tanya. Bukankah memang seperti itu ketika manusia melalui masa depan..
Banyak kekhawatiran melebihi 2020 ternyata yang dibayangkan 2020 akan menjadi tahun penuh kekhawatiran ternyata tidak sebanding dengan apa yang harus di lalui tahun ini..
Ada beberapa hal yang membuat malu untuk menuturkannya, ada beberapa hal yang memang harus di simpan sendiri ternyata..
Usaha menjaring angin yang sering dikatakan ternyata sampai saat ini masih sering dilakukan..
Ketidak kompetanan membuat dan memaksa untuk terus melakukan hal tersebut..
Beberapa orang mungkin menanyakan maksud dari kalimat tersebut, mungkin yang dapat diartikan dari "pemahamannya sendiri" usaha menjaring angin merupakan kegiatan atau usaha (tenanga) yang dilakukan tidak akan berarti apa-apa karena ia sebenarnya tahu apa yang berusaha ia ingin dapatkan tidak akan diperoleh.
Ia terus gagal dalam mencari, entah berapa persen ia hitung kemungkinan gagalnya menemukan pasangan hidup, atau berapa kali gagalnya mendapatkan pekerjaan yang ia harapkan...
Pikirnya sebentar lagi usianya bertambah seperempat abad tepatnya, tapi jika sampai hari itu tiba dan ia belum menjadi apa-apa (setidaknya sudah memiliki perkerjaan) bagiamana ia menghadapi takdir kedepannya..
Sesekali ia menatap kosong menghadap langit keluar jendela bus yang ia tumpangi selepas perjuangannya yang entah keberapa kali..
Masih tak ada harapan ternyata..
Pikirnya apakah iya sepayah ini hidupnya..
Dia yang dulu terus membanggakan diri entah kepada siapa kini tertunduk malu kalau² ia tidak bisa menjalani hidup sebaik yang ia bayangkan selama ini..
Lalu pada waktu yang ia anggap seperti Dewa, diam² ia sematkan beberapa kata yang menjadi doa, tolong ijinkan sekali ini lagi berbaik hati menuliskan kebaikan dalam garis hidupnya..
Mungkin ia akan tersenyum sendiri membaca kembali tulisan bodoh ini setelah ia berhasil mendapat apa yang diinginkan, atau mungkin ia akan kembali menulis hal serupa untuk beberapa kali karena usaha menjaring anginnya masih berlanjut....
Pikirnya Kalimat-kalimat penuh imanpun sekarang terasa biasa saja jika sudah tahu ketidak kompetennya diri..
Mungkin seperti orang sekarat tinggal menunggu mujizat, adalah kalimat yang bisa menyenangkan hati walaupun sedikit.


Komentar
Posting Komentar