Setengahnya 1/4
"Hallo apa kabar hari ini?"
Aku menyapa diriku dalam hati.
Biasa saja masih sama dengan hari kemarin, bulan kemarin, bahkan tahun kemarin.
Ada yang berbeda? Yah, selain Sudah tidak menjadi pengangguran, tidak ada lagi yang berbeda terkhusus status yang tentu saja tidak perlu di tanya masih saja "SOLO" 🥺
Menjalani pagi sampai malam dengan bekerja, berat tentunya pasti..
Ternyata mengais berkat yang tidak sebanding dengan lelahnya ini sungguh menyebalkan.
Pagi ini terbangun dengan tubuh yang remuk semua "ah, ternyata ini alasan mengapa pemuda-pemuda jompo itu selalu mengelu-elukan koyo, minyak angin, dan lain sebagainya".
Hidup nomaden membuat aku menyadari betapa pentingnya sebuah rumah bagi manusia. Pindah ke kosan satu ke kosan yang lain karena tidak cocok airnya, tempatnya yang sempit, dan alasan lainnya yang ada-ada saja munculnya. Dari situpun aku menyadari satu hal, mencari tempat tinggal sama sulitnya dengan mencari pasangan hidup. Mungkin suatu saat ketika aku menemukan dia yang terlihat oke dari banyak hal, pasti ada saja satu hal pada dirinya yang tidak akan sesuai dengan apa yang aku cari. Lalu kalau hal itu sampai terjadi aku tidak tahu pasti keputusan apa yang harus aku ambil. Aku pernah dengar Kata orang "Pilihlah seseorang yang kekurangan nya dapat kamu maklumi seumur hidup". Jadi kalo semisal pasanganmu suka ngatur, suka ngomel, permarah dan hal buruk lainnya. Kamu harus pastikan kalo kamu bisa terima dan maklumi sikapnya itu seumur hidupmu. Jangan berharap kalo suatu saat kamu bisa merubahnya, atau dia bisa saja berubah karna udh punya anak atau apapun itu. Itupun kurasa berlaku bagiku, aku sedang berusaha menerapkan hal tersebut bukan hanya utk calon pasanganku tapi aku juga. Orang akan berpikir aku terlalu banyak pertimbangan, terlalu pemilih dan lain sebagainya. Sedangkan hati dan isi kepala bertengkar tak mau kalah.
Si sok pintar ini masih saja keras kepala. Menjaring angin dengan sekuat tenanga yang sudah tahu pasti akhirnya bagaimana.
Mau memulai usaha, tapi ya ada saja alasan tidak bisanya, mulai dari kekurangan modal, sampai tidak bisa memulai sendiri menjadi alibi terjitu yang bisa dibuatnya.
Iri melihat teman mengapai cita-cita yang sama persis dengan yang diinginkan, membuatku semakin meratapi nasib yang begini-begini saja. Aku mengeluh akan duniaku. Bangun pagi, pergi berkerja, pulang kerja buka IG, Tiktok, nonton Drakor, terus kembali tertidur, besoknya kerja lagi. Begitu saja terus hidupku. Lalu aku berpikir skenario seperti apa aku bertemu pasangan hidupku jika begini alur kisahnya. Kata banyak orang setidaknya jika tidak berhasil di percintaan kita bakal berhasil di karir atau pekerjaan.
Padahal katanya dewasa itu adalah begaimana seseorang tau arah dan tujuan, bukannya malah tenggelam dalam keadaan yang memilih pasarah dibawa kemanapun tanpa perlawanan.
Pekerjaan impian ada didepan mata tapi usaha untuk mengejarnyapun terasa panjang dan melelahkan itu saja sudah terliat bagaimana aku mudah menyerahnya..
Katanya gigih tapi begini saja sudah cukup membuatku mundur perlahan.

Komentar
Posting Komentar