Jogja - 2022

Bukan Travelblogger.

Kali ini aku berkunjung ke Yogyakarta. Kota ini bukan sekali-dua kali ku kunjungi, ini yang ketiga kalinya dan yang spesial adalah aku tidak bersama teman, atau hanya seorang diri. Kali ini aku bersama ibu dan juga adikku.

Puji Tuhan kami punya cukup berkat untuk sekali lagi diizinkan berkelana.
Tepat Maret lalu aku mendapatkan pekerjaan keduaku setelah menganggur cukup lama, dan berhenti dari pekerjaan terakhir dengan tidak menyenangkan.
Kami ke jogja bertepatan dengan lebaran pada tanggal 1 mei 2021 yaitu H-1 lebaran dan jujur saja kami salah memilih waktu berkunjung. Tapi estimasi tanggal keberangkatan dan pulang kami sesuaikan dengan jadwal libur kantor agar selepas dari jogja kami tetap punya waktu beristirahat dengan cukup sebelum benar-benar masuk kerja.

Perjalanan ±8 jam dari stasiun Wonokromo surabaya kami berangkat pukul 05.59 pagi dan sampai di jogja 11.28 pagi, setiba di sana kami langsung mampir mencari tempat penyewaan motor kami menyewa motor untuk kurang lebih 3 hari di kisaran 100K/hari (karena high season) kenapa sewanya satu padahal orangnya bertiga jawabannya adalah karena aku belum bisa nyetir motor kala itu. setelah berhasil transaksi sewa motor kami langsung menuju hotel, hotel yang sama aku pesan saat aku berkunjung 2019 lalu model hotelnya seperti hotel kapsul gitu jadi gak ada kamarnya hanya ada modelan tempat tidur bertingkat. tempatnya cukup nyaman di banding Homestay tapi aku salah memilih hotel harusnya aku memilih hotel tipe biasa yang bisa di isi 2-3 orang. awalnya aku berdalih biar bisa berhemat padahal hitungannya tetep aja sama 😭

Ternyata Jogja masih sangat sepi dikarenakan pandemi yang mengharuskan tempat-tempat wisata pada tutup.

FYI karena libur lebaran, banyak tempat wisata yang jadwal bukanya H+2 setelah lebaran. Aku mikirnya kalo musim liburan bakalan rame ternyata salah, Jogja juga sepi pas lebaran.
Taman sari yang cukup menjadi icon kota jogja sudah tutup bahkan H-1 sebelum lebaran dan jadwal bukanya hanya sampai pukul 12 atau 1 siang kata warga sekitar yang masih sibuk bersantai dipekarangan taman sari.
Dan info paling penting, kalaupun taman sari dibuka, lokasi 5 tangga yang terletak di bawah tanah itu tidak dibuka selama masa pandemi (karena tempat tertutup dan minim cahaya, khawatir covid-19 dapat menyebar dengan mudahnya).

Karena rencana ketaman sari gagal, aku ngajak adik dan mami ke Situs Warung Boto (tempat ini sudah pernah ku kunjungi waktu solo trip 2019 lalu ya gak bisa di bilang solo trip sih ini karena dulu aku di temenin Borgi (temanku) yg masih stay di Jogja Kala itu). Masih sama seperti 2019 Tentu saja sepi banget tempatnya dan itu yang mengasikkan, serasa milik pribadi gak sih 😂 

kami menghabiskan 30 menit di situ karena gak banyak tempat fotonya..

Setelah puas, kami kembali ke penginapan dan bersiap untuk ke Malioboro. Seperti turis pada umumnya yang main ke Malioboro Kami menyusuri sepanjang jalan Malioboro dan sempat makan di kedai pinggiran Malioboro. Karena bertepatan hari lebaran malam itu, kami memutuskan untuk pergi ke monumen tugu jogja, di sana kami cukup lama melihat konfoi beberapa sepeda motor yang asik takbiran. Sampai pukul 1 dini hari, kami kembali ke penginapan. 

Besoknya kami ke candi ratu Boko candi Prambanan, dan salah satu candi tidak terkenal (lupa nama candi nya) Karena saat itu aku blm mahir bawa motor kami hanya sewa 1 motor dibawa adik ku dan utk mami kami pesankan ojek online, sesampai di Prambanan emg udh agak sore, dan kami hanya bisa menikmati sebentar saja tempatnya karena menuju jam pulang.

kami kesulitan memesan ojek online utk mama ku, karena bertepatan hari lebaran dan jauh dari pusat kota kali ya, pesen ojek online motor aku akhirnya pesan ojek online mobil tapi mahal ㅠㅠ

But it's okay, itu adalah pengalaman indah.

Hari ketiga di Jogja kami pergi makan bakso jumbo, kemudian aku dan adik ku memutuskan ke Parangtritis, mama ku gak ikut karena udh capek.

Oh kami kena schamp, jadi malam hari setelah pulang dari Prambanan kami memutuskan untuk makan di tenda pinggir jalan depan hotel, kami hanya memesan 2 nasgor, 1 nasi capcai, 2 teh manis, 1 es jeruk dan itu bener² sederhana. Aku yang mikir makanan di Jogja murah sungguh terkejut dengan dengan harga yang disebutkan penjual 98rb. Astaga bukan karena apa-apa ya, tapi sungguhan itu makanan rasanya gak enak pol, kalopun harganya semahal itu tapi rasanya enak aku bakal ikhlas, tapi tidak dengan rasa gak enak harga gak ngotak 😭🥹

Yah begitulah kisah perjalanan selama di Jogja kali ini.

Komentar

Postingan Populer