Dikerjain
Di usiaku yang menginjak 23 th d tahun ini, secara usia bisa di katakan matang mungkin beberapa dari temanku sudah memiliki keluarga kecil, pekerjaan yang menjanjikan, atau bahkan ada sebagian yang masih menganggur dan sibuk bergonta ganti pekerjaan. Aku hanyalah wanita biasa dengan segala rutinitas yang membuatku bosan, sesuatu yang ku harapkan pada awalnya hanya akan berakhir dengan keluhan dan rasa jenuh apa mungkin aku terlalu tidak bersyukur.. Pekerjaan yang kugeluti sekarang yang pada awalnya adalah sesuatu yang sangat ku harapkan untuk melanjutkan kehidupanku di tanah rantau ini membuat ku frustasi sebenarnya bukan dengan caraku bekerja, aku sangat senang dengan pekerjaan itu melayani pelanggan sebagai pramusaji atau menebar senyum sebagai kasir ketika pelanggan telah selesai membayar. Tapi yang membuatku frustasi adalah atasanku mungkin benar selama kita hidup pasti ada saja yang membuat kita merasa benci entah itu suatu hal, atau seseorang. Pada awalnya aku senang menjadi salah satu orang kepercayaan atasanku tapi semakin lama aku bekerja sikap bosku semakin tak adil bagiku dia menyuruh aku menyelesaikan banyak hal ini dan itu tetapi gajiku tidak pernah di naikan, gajiku sama saja dengan pegawai yang baru masuk, oke ini bukan soal membeda-bedakan karyawan atau apalah yang kau sebut. Aku akan santai saja jika job describe kita setara aku akan santai saja jika pekerjaan yang kita selesaikan sama-sama berat, tapi yang menjadi alasan aku tidak terima adalah pekerjaan yang masing-masing kita selesaikan itu berbeda porsinya. Bagiku dia sma sekali tidak bisa menghargai kerja keras orang lain..
Lama kelamaan seiring dengan berjalannya waktu gajiku di naikan, tapi aku terlanjur memutuskan untuk menjadi karyawan biasa dan tidak mau lagi menjadi orang kepercayaan bosku, ketika dia memintaku untuk menangani salah satu kerja sama dengan pihak penyedia layanan pembayaran online aku menolak dengan alasan ya seharusnya dia langsung saja yang berhubungan dengan pihak penyedia layanan pembayaran online toh keputusan pun dia yang berikan maksudku dari pada nantinya aku harus menjelaskan kembali bagai mana prosedur ini-itu kepadanya bukankah hal itu menjadi tidak efektif dan efisien. Awalnya dia marah dan dengan egoisnya dia menyatakan kinerjaku menurun, aku dibilang sudah tidak profesional lagi dalam bekerja dan yang paling menyakitkan adalah aku di bilang ingin menjatuhkannya dengan memprofokasi karyawan lain untuk melaporkannya ke depnaker karena sering memecat karyawan tanpa alasan yang jelas.Setiap harinya tiada henti aku menggerutu tentangnya, aku mencaci maki sikapnya, aku menjelek-jelekannya didepan teman-temanku, aku berusaha sekuat tenanga membuat dia terlihat salah di depan mata semua karyawan, dan ini bukan sekedar argumenku hampir semua karyawan di tempatku bekerja sudah tidak lagi menghormatinya bukan karena aku menghasut mereka untuk membencinya tapi sikapnya yang jelekpun karyawan tau. Dan kau tau apa setiap harinya aku bekerja dengan harapan hari segera usai, atau ketika atasanku datang dia seolah membawa aura kematian aura buruk yang membuat semangat luntur seketika.


Komentar
Posting Komentar